KORAL LAUT Series#1: Masa Depan Garam Rakyat

MALANG. Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya mengadakan diskusi dengan tajuk Koral Laut yang merupakan akronim dari Kajian Seputar Pesisir dan Kelautan Terkini. Pada series #1 ini mengangkat tema “Masa Depan Garam Rakyat”. Pemantik diskusi pada edisi pertama ini adalah Rachmad D Kuncoro dari Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Direktorat Jasa Kelautan, Ditjen PRL, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Adi Tiya Yanuar, Peneliti Bidang Keahlian Mineral Laut Pusat Studi Pesisir dan Kelautan, Universitas Brawijaya. Adi Tya pada kesempatan kali ini menjelaskan tentang inovasi produksi garam. Mulai dengan bagaimana meningkatkan kualitas garam hingga bagaimana petani garam dapat memproduksi garam sepanjang tahun. Salah satu teknologi yang dijelaskan salah satunya adalah kombinasi Metode Continuously Dynamic Mixing (CDM) dan Teknologi Greenhouse Salt Tunnel (GST). Bahasan tersebut dilengkapi dengan materi Pengelolaan Pegaraman Nasional yang disampaikan oleh Rachmad.

Dokumentasi: Sebelah kiri Rachmad D Kuncoro (KKP) dan sebelah kanan Adi Tiya Yanuar (PSPK UB)

Pokok pembahasan diskusi ini adalah mengkaji bagaimana permasalahan garam rakyat yang terjadi saat ini. Permasalahan utama garam rakyat ini banyak disebabkan oleh impor garam. Kedua pemantik diksusi menyampaikan bahwa impor garam ini sangat berdampak pada usaha garam rakyat. Harga garam produksi petani lokal terjun bebas. Salah satu peserta diksusi dari penyuluh garam, Manggala menyatakan bahwa dampak kelebihan stok, kini harga jualnya hanya berada di kisaran Rp 300 per kilogram (kg). Puluhan ribu ton garam produksi petani tambak lokal pada tahun lalu pun belum terjual. Hal ini ditambah juga dengan penyerapan garam lokal oleh industri rendah. Kondisi ini diduga terjadi karena keberadaan garam impor.

Menurut pemantik diskusi Adi Tiya menjelaskan bahwa kondisi ini diduga ada bocornya kuota garam impor yang seharusnya diperuntukkan oleh industri pengguna garam ke garam konsumsi. Hal ini yang mengakibatkan berkurangnya penyerapan garam di usaha garam rakyat. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat mengkonsumsi garam yang kandungan NaCl-nya berlebihan, dikarenakan garam industri yang notabennya memilki kandungan NaCl lebih tinggi masuk ke dalam lingkaran garam konsumsi.

 

Disisi lain, kajian tentang Review SNI Garam Konsumsi Beriodium oleh Pusat Kesehatan Dan Gizi Manusia (PKGM) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa terjadi masalah ganda pada pola konsumsi mineral di Indonesia. Disatu sisi terjadi kelebihan konsumsi NaCl, sementara di sisi lain terjadi defisiensi mineral lain baik mineral makro maupun mikro yang berdampak pada peningkatan prevalensi GAKI dan anemia. Pada SNI 4435:2017 tentang Garam Bahan Baku Garam Konsumsi Beriodium menunjukan standar NaCl minimal 94%. Sementara umumnya produksi NaCl garam rakyat umumnya berkisar dibawah 94%. Hal ini memiliki peluang garam import yang mempunyai kandungan NaCl 98-99% bisa masuk ke dalam garam konsumsi. Dari kajian tersebut direkomendasikan untuk mengkaji ulang SNI dan memberi btas atas pada nilai 97%.

Penentuan batas atas kandungan NaCl sebesar 97% pada garam konsumsi diharapkan dapat memberikan peluang bagi zat mineral selain NaCl untuk terkandung dalam garam dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh karena itu upaya perubahan regulasi SNI diharapkan dapat mengunci batas atas NaCl untuk garam konsumsi. Upaya ini diharapkan dapat menjadi solusi agar garam rakyat kembali lebih banyak yang diserap. Selain itu juga menjaga kesehatan masyarakat Indonesia agar tidak “keracunan” garam.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top